u3-1000047827
Sepenggal Kisah Filial SDN 004 Sangkulirang: Merajut Harapan di Sabalokan

Sepenggal Kisah Filial SDN 004 Sangkulirang: Merajut Harapan di Sabalokan

Oleh: Abdullah, S.,S.Pd.SD

Pada 2 Maret 2018, amanah besar jatuh ke pundak saya. Saya diangkat menjadi Kepala Sekolah SDN 004 Sangkulirang. Meski saat itu saya masih berada di golongan III/A—yang secara administratif seharusnya diisi oleh golongan III/B—hal tersebut tidak menyurutkan langkah saya. Bagi saya, pengabdian di dunia pendidikan tidak boleh terhalang oleh urusan pangkat.

Sekolah kami terletak di Desa Pulau Miang, sebuah desa terpencil yang berada di pulau terluar Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur. Awalnya, tantangan kami sangat besar. Dengan jumlah siswa yang hanya sekitar 50 orang, Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang kami terima sangat minim karena bergantung pada jumlah murid. Dana tersebut harus dibagi untuk gaji guru honorer, operasional sekolah, hingga biaya perjalanan dinas ke kecamatan dan kabupaten yang memakan waktu dan biaya tidak sedikit.

Kondisi semakin sulit saat mata pencaharian warga mulai beralih. Banyak nelayan yang beralih menjadi karyawan perusahaan sawit. Akibatnya, banyak siswa yang pindah sekolah mengikuti orang tua mereka ke daratan. Sekolah kami pun terancam kehilangan murid.

Titik Balik: Dari Garasi ke Sekolah Filial

Melihat kondisi yang stagnan, saya menyadari harus ada inovasi. Saya mulai berkoordinasi dengan Kepala Desa Pulau Miang saat itu, Bapak Majedy, Kepala UPTD Kecamatan Sangkulirang, Bapak Amir, M.Pd., serta pengawas sekolah, Bapak Raolah, S.Pd. Ide besarnya adalah: mendirikan kelas jauh atau Sekolah Filial.

Perjuangan dimulai dengan meminjam sebuah garasi mobil bekas yang sudah tidak terpakai. Dengan semangat gotong royong, garasi berukuran 4 times 7 meter itu kami sulap menjadi ruang kelas sederhana. Tak lama berselang, Pemerintah Desa menghibahkan tanah seluas 1.500 meter persegi di Jalan Sabalokan—wilayah yang sangat strategis karena dekat dengan area pabrik dan perumahan karyawan sawit.

Perjuangan Menembus Ombak

Tahun 2020 menjadi saksi dimulainya proses belajar mengajar. Dengan 12 siswa pertama, sekolah filial ini resmi dibuka. Karena keterbatasan tenaga pengajar, saya turun tangan langsung. Setiap hari, saya harus menyeberangi lautan dari Pulau Miang menuju daratan Sabalokan untuk mengajar.

Tantangan cuaca dan ombak seringkali menguras tenaga dan waktu. Demi efektivitas, saya akhirnya memutuskan membangun sebuah pondok sederhana di dekat sekolah untuk berteduh dan beristirahat. Lelah? Tentu. Namun, melihat binar mata anak-anak yang ingin belajar, rasa lelah itu seolah luntur begitu saja.

Memanen Buah Kesabaran

Kini, perjuangan, kesabaran, dan keikhlasan itu mulai membuahkan hasil. Sejak pembangunan fondasi Ruang Kelas Baru (RKB) dimulai pada tahun 2022, fasilitas kami terus berkembang. Berkat dukungan Dinas Pendidikan, bantuan CSR perusahaan, serta peran aktif anggota DPRD Kutai Timur, wajah sekolah kami kini jauh berbeda.

Saat ini, sekolah filial kami telah memiliki:

3 ruang kelas dengan total 87 siswa.

Fasilitas pendukung seperti Musholla, Laboratorium, Ruang UKS, Ruang TU, dan Ruang Guru.

6 unit WC dan 4 rumah dinas guru yang sudah dihuni.

Area sekolah yang sudah disemenisasi, dipagar keliling, serta memiliki lapangan bola voli.

Meski demikian, perjuangan belum usai. Kami masih kekurangan 3 ruang kelas dan membutuhkan tambahan tenaga pendidik. Dari 4 guru yang ada, beberapa masih berstatus honorer dan harus merangkap mata pelajaran. Saya pun masih setia membantu mengajar di kelas di sela-sela tugas sebagai kepala sekolah.

Kisah dari SDN 004 Sangkulirang ini adalah bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Di mana ada kemauan untuk memajukan anak bangsa, di situ Tuhan akan membukakan jalan.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait